Pemerintah akan terus mendorong upaya pemanfaatan energi alternatif di tengah makin menipisnya cadangan minyak tanah air. Upaya pemerintah tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden Nomer 5 Tahun 2006 dan Instruksi Presiden Nomer 1 Tahun 2006 tertanggal 25 Januari 2006 tentang kebijakan energi, khususnya pemanfaatan energi yang berasal dari nabati, seperti buah jarak.
Menurut Ratna Ariyati, Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, meskipun peraturan tersebut lebih menekankan kepada pengembangan minyak jarak, bukan berarti sumber energi berbahan baku nabati lainnya tidak diperlukan. "Pemerintah tetap mendorong pemanfaatan sumber energi alternatif berbahan baku tanaman lainnya (bio-ethanol) yang banyak dan dapat dikembangkan di Indonesia," katanya pada acara workshop bagi media cetak dan elektronik mengenai "Etanol Jagung sebagai Sumber Energi Alternatif" di Jakarta, 23 Februari 2006.
Ratna Ariyati menambahkan bahwa saat ini cadangan minyak pasti Indonesia hanya 4,8 miliar barrel. Sementara setiap tahun Indonesia memproduksi 550 juta barrel. Jika masyarakat tidak dapat menekan pemakaian minyak bumi, diperkirakan dalam waktu tujuh tahun cadangan minyak akan habis. Bahkan, tutur Ratna, dalam waktu lima tahun Indonesia bisa menjadi pengimpor neto (net importer) minyak bumi.
Untuk itu Pemerintah, melalui Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mengeluarkan kebijakan yang sangat mendukung pemanfaatan sumber energi alternatif sebagai campuran bakar bakar fosil. "Diharapkan dengan digunakannya bio-ethanol sebagai energi campuran, Indonesia akan bisa menghemat pemakaian BBM sehingga dapat menambah cadangan minyak," tambah Ratna Ariyati.
Sementara itu Agus Eko Tjahjono, Kepala Balai Besar Teknologi Pati, BPPT, yang menjadi pembicara lainnya di workshop, mengungkapkan bahwa BPPT sejak lama telah meneliti berbagai macam tanaman seperti singkong, tetes tebu, buah jarak sampai jagung sebagai bahan baku bio-ethanol. Hasilnya, menurut Agus Eko Tjahjono, ternyata bio-ethanol memiliki beberapa kelebihan, seperti tingkat emisi lebih rendah, ramah lingkungan dan hasil pembakarannya yang berupa CO2 sangat dibutuhkan untuk tanaman berkembang. "Hanya saja, energi ini belum bisa menggantikan BBM yang ada. Dia baru bisa dijadikan sebagai campuran saja. Mungkin komposisinya 40% bio-ethanol dan 60% BBM," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Andy Gumala, Asean Business Manager PT DuPont Indonesia mengatakan bahwa potensi jagung Indonesia sangat besar dan memiliki multi manfaat. "Selama ini jagung banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak. Padahal produk ini juga bisa dijadikan bio-ethanol seperti yang sudah dilakukan di Amerika Serikat. Bahkan energi ini dapat terus diperbaharui," tambahnya.
Sebagai produsen jagung, PT DuPont Indonesia melihat beberapa provinsi di Indonesia memiliki potensi sebagai penghasil jagung yang besar, seperti Sumatra Utara, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur serta Aceh. Jika potensi daerah ini dapat dimanfaatkan, selain dapat mengangkat ekonomi para petani jagung, Indonesia juga dapat memproduksi campuran bahan bakar dari bio-ethanol. Menurut Andy Gumala, dari hitungan secara sederhana, jika asumsi ethanol akan menggantikan 10% dari kebutuhan BBM dalam negeri yang mencapai 60 juta kilo liter/tahun, maka diperlukan 6 juta x 2,4 ton jagung yang berarti 14,4 juta ton jagung atau setara dengan3 juta hectare lahan tanaman jagung.
Mengenai investasi pembangunan pabrik ethanol, menurut Imam Soeseno, Direktur PT Bio-fuel Indonesia, sangat tergantung kepada kapasitas produksi yang akan dihasilkan dan ketersediaan bahan baku. Untuk mesin-mesin pengolah, katanya, saat ini sudah ada produksi lokal yang sederhana namun tak kalah canggihnya dengan produk impor.